Selasa, 26 Januari 2016

Alasan Industri Asuransi Indonesia Belum Siap Mengikuti Standar Internasional

Keberadaan industri asuransi sejatinya mengikuti standar internasional. Adanya hal tersebut membuktikan keseriusan para pelaku usaha asuransi untuk memberikan fasilitas yang terbaik bagi calon nasabahnya. Standar internasional yang akan ditetapkan juga membuat perusahaan asuransi lebih dipercaya dengan harapan nantinya akan banyak nasabah yang membeli polis asuransi tersebut.

Sebagai wujud nyatanya, OJK sebagai pengendali industri keuangan non bank berupaya menerapkan standar internasional pada pelaku bisnis asuransi. Namun, industri asuransi di Indonesia ternyata belum siap untuk mengikuti standar yang telah dibuat tersebut. Berikut alasan yang kuat ketidaksiapan para pelaku usaha asuransi berkaitan dengan aturan tersebut.

Faktor utamanya adalah modal yang sangat tinggi harus dimiliki oleh berbagai pengusaha asuransi. Hal ini dikemas dalam bentuk penerapan laporan keuangan berstandar akuntansi keuangan (PSAK) 62 atau International Financial Reporting Standards (IFRS). Direktur Biro Riset Info Bank, Eko, B Supriyanto mengungkapkan bahwa perlu adanya kesiapan modal yang dimiliki jika akan mengikuti standar yang diberikan. untuk modalnya, beliau mengatakan bahwa setidaknya setiap perusahaan asuransi harus memiliki modal minimal 100 miliar, pada tahun 2014.

PSAK 62 juga memiliki beberapa syarat yang cukup rumit sehingga sulit untuk diterapkan oleh asuransi. Misalnya perlu adanya infrastruktur yang mumpuni bagi setiap pelaku usaha. Mereka juga memerlukan upgrade teknologi baik dengan nasabah, hubungan antar instansi, maupun yang menyangkut sistem keamanan. Mereka juga harus memahami perhitungan cadangan teknis dengan metode fross premium valuations.

Pada wawancaranya di Jakarta pada tanggal 2 Juli 2013, Eko juga sempat mengungkapkan bahwa industri asuransi tidak seperti perbankan yang mudah diterapkan di seluruh dunia. Ada beberapa regulasi yang harus dipenuhi dan beberapa lainnya harus memerlukan alternatif lain untuk diterapkan di setiap kegiatan usaha asuransi.

Chief of Reasearch InfoBank, Ateng Anwar Darmawijaya juga sependapat dengan tanggapan Eko. Adanya PSAK 62 akan menimbulkan dampak tergerusnya Risk Based Capital pada sektor asuransi. Hal ini ditakutkan akan semakin meluas, sebab tanpa adanya PSAK 62 tercatat di tahun 2012 telah terjadi penurunan sejumlah besar sebanyak 31 perusahaan asuransi. Jika perusahaan asuransi mengikuti aturan internasional maka bisa dimungkinkan bahwa mereka akan mengalami penurunan lebih besar lagi.

Meski demikian tidak ada salahnya bila setiap perusahaan asuransi telah mempersiapkan diri mereka untuk go internasional. Mungkin dalam beberapa tahun Indonesia telah memasuki dunia internasional yang menuntut kinerja para pengusahanya lebih baik lagi, bukan hanya sebatas nasional, tetapi lebih jauh pada internasional. Cara yang paling mudah adalah meningkatkan berbagai sektor industri asuransi secara perlahan. Diharapkan setiap chairman tidak buta dalam mencoba belajar tentang asuransi di dunia internasional.

Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/628394/industri-asuransi-ri-belum-siap-ikuti-standar-internasional


Related Posts :