Selasa, 22 Desember 2015

Cara Mengantisipasi Pelayanan BPJS Yang Buruk

Pemerintah Indonesia mengharuskan seluruh warga Negaranya untuk memiliki BPJS dan perintah itu sudah diatur dalam undang-undang. Namun nyatanya, BPJS ini tidak selalu menguntungkan para pesertanya. Adakalanya, pelayanan yang buruk juga akan menimpa para peserta BPJS untuk itu Anda sebagai salah satu peserta aktif harus mengantisipasi terjadinya pelayanan buruk ini. Pelayanan tersebut seperti :

  1. Para peserta BPJS akan seringkali menghadapi berbagai macam masalah mulai dari antrian panjang di rumah sakit, kamar untuk peserta BPJS sering penuh maka sulit untuk mendapatkan kamar rawat inap serta obat-obatan yang harus ditanggung peserta karena tidak adanya jaminan dari pihak BPJS. Peserta BPJS yang melonjak setiap bulannya dan diikuti dengan uang iuran yang terbilang ini menjadi penyebab beberapa masalah tersebut.

  2. Jika peserta ingin berobat, maka para peserta tidak bisa berobat di sembarang rumah sakit karena tidak semua rumah sakit swasta sudah bekerja sama dengan pihak BPJS maka jaminan BPJS tidak bisa dilakukan. Peserta hanya bisa berobat di rumah sakit tertentu yang sudah menjalin kerja sama yang baik dengan pihak BPJS.

  3. Fasilitas kamar rawat inap BPJS sangat berbeda dengan asuransi kesehatan lainnya. BPJS menyediakan fasilitas kamar perawatan hanya sampai kelas 1 tidak ada kelas VIP maupun VVIP. Oleh karena itu iuran yang dibayarkan menjadi jauh lebih murah berkisaran antara 25.000 sampai 60.000 rupiah. Memang sebenarnya tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan dalam kelas-kelas yang berbeda itu, tidak ada pembeda perawatan dan kualitas dokternya, namun tetap saja kenyamanan kamar akan sangat berbeda antar kelas.

  4. Umumnya puskesmas adalah tempat utama untuk berobat bagi peserta BPJS. Namun puskesmas memiliki jam kerja yang sangat terbatas. Maka banyak yang memeriksakan kesehatannya di rumah sakit pada akhir pekan karena akhir pekan adalah waktu yang fleksibel untuk kegiatan di luar pekerjaan. Namun, para peserta BPJS diharuskan untuk datang ke faskes ( fasilitas kesehatan ) tingkat pertama dahulu yaitu klinik atau puskesmas dan dokter keluarga.

  5. Ketika peserta BPJS ingin berobat ke rumah sakit maka peserta harus datang ke faskes tingkat pertama terlebih dahulu untuk meminta surat rujukan karena BPJS menerapkan sistem jalur pelayanan melalui rujukan berjenjang. Kecuali dalam keadaan gawat darurat, maka peserta tidak diharuskan untuk meminta surat rujukan terlebih dahulu dan dapat langsung datang ke rumah sakit.

Jika sudah mengerti apa saja permasalahan dalam pelayanan BPJS, maka peserta harus mengetahui bagaimana cara efektif untuk menanggulanginya. Karena peserta sudah bisa membayangkan apa yang nantinya akan dilakukan dalam keadaan pelayanan yang kurang baik. Cara untuk mengantisipasi pelayanan BPJS yang buruk adalah dengan mengikuti program cash plan salah satunya.

Karena prosesnya lebih mudah, peserta hanya menunjukkan berapa lama dirawat inap dan asuransi akan mengganti sejumlah hari dari awal rawat inap. Cash plan itu sendiri merupakan santunan harian yang akan dibayarkan jika sang peserta masuk rumah sakit. Selain itu peserta juga harus menggabungkan antara BPJS dengan asuransi kesehatan swasta, jika terjadi penambahan biaya ketika mengambil kelas kamar rawat inap di atas standar yang disarankan oleh BPJS.

Oleh karena itu, peserta sangat memerlukan asuransi kesehatan swasta untuk menanggung sisa tagihan di luar jaminan BPJS maka peserta tidak akan mengeluarkan biaya tambahan pada saat rawat inap. Itulah yang dapat para peserta BPJS lakukan untuk menanggulangi pelayanan yang kurang baik. Nyatanya, pemahaman ini dapat membuat peserta memilah jalan yang nantinya akan dilewati ketika menghadapi suatu masalah pelayanan perawatan dan juga menjadi pengetahuan yang sangat tinggi nilainya.


Related Posts :