Selasa, 13 Januari 2015

Asuransi Syariah vs Asuransi Konvensional

Manusia bekerja keras untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Namun, di suatu waktu setiap manusia bisa saja ditimpa musibah atau kecelakaan. Setiap kecelakaan yang diderita akan menyebabkan kerugian. Baik itu yang mengakibatkan cedera, cacat, bahkan sampai meninggal dunia. Oleh karena itu, banyak pekerja ataupun orang yang cukup tahu resiko tersebut akan ikut asuransi. Baik itu barang berharga miliknya ataupun dirinya sendiri.

Asuransi memungkinkan untuk menanggulangi setiap kerugian yang diderita oleh polis asuransi. Selain ganti rugi barang berharga dan biaya pengobatan. Asuransi juga dapat memberikan bantuan kepada keluarga polis dengan asuransi jiwa yang telah diikuti dan masih dalam jangka waktu kontrak asuransi.

Asuransi yang ada selama ini dapat menjamin setiap klaim para polis dengan syarat membayar premi setiap bulannya, dan besaran pembayaran telah ditentukan di awal oleh pihak perusahaan berdasarkan lama dan jenis asuransi yang diinginkan oleh polis asuransi. Tetapi asuransi selama ini memiliki kesan menjebak konsumennya.

Biasanya, lama kontrak asuransi berkisar 1-30 tahun. Hal ini disesuaikan dengan keinginan peserta asuransi. Jika peserta polis asuransi tidak mampu lagi membayar premi atau ingin memutus kontrak asuransinya di tengah masa kontrak. Maka premi yang selama ini dibayar oleh peserta tidak kembali ke pihak peserta, melainkan menjadi milik perusahaan asuransi sepenuhnya. Dana premi yang dikeluarkan peserta dikumpulkan oleh perusahaan asuransi dan kemudian diputar kembali sebagai modal investasi. Dana tersebut bisa saja diinvestasikan di pasar saham ataupun di perbankan. Namun, asuransi konvensional akan menginvestasikan dana tersebut di berbagai hal asalkan menghasilkan keuntungan yang jelas. Tanpa melihat perusahaan ataupun lembaga tempat ia menginvestasikan dananya tersebut halal ataupun haram.



Lain halnya dengan asuransi syariah. Memakai konsep takafful (tolong-menolong), asuransi syariah tidak bisa mengubah kepemilikan dana premi dari pihak peserta langsung menjadi milik perusahaan seperti asuransi konvensional. Melainkan dana premi peserta yang diberikan langsung dibagi dua oleh pihak perusahaan menjadi dana tabarru’ dan dana investasi.
Dana tabarru’ ini sendiri merupakan bentuk infak yang wajib dikeluarkan oleh peserta asuransi. Karena dana tabarru’ yang dikeluarkan akan menjadi dana tetap yang akan dipakai untuk setiap klaim yang diajukan oleh peserta asuransi. Perusahaan asuransi juga tidak boleh memakai dana tabarru’ ini untuk investasi. Kecuali dana investasi oleh nasabah. Dana investasi kemudian dikelola oleh pihak perusahaan dengan menginvestasikannya ke sukuk, reksa dana syariah, obligasi syariah, bank syariah dan lembaga lainnya yang sesuai dengan syariah.

Kemudian return yang diperoleh perusahaan juga dibagikan ke peserta asuransi dengan akad mudharabah (bagi hasil). Jadi, keuntungan peserta asuransi syariah selain jaminan asuransi dari pihak perusahaan, peserta juga memperoleh return dari hasil investasi yang dilakukan oleh perusahaan. Jika suatu waktu peserta asuransi ingin memutus kontrak asuransi di asuransi syariah. Maka dana investasi yang selama ini diberikan peserta sebagai premi akan dikembalikan beserta return-nya. Namun, dana tabarru’ tadi tidak dapat kembali ke peserta. Karena dana tersebut merupakan infak dari peserta sendiri sehingga sangat dilarang untuk diberikan kembali ke peserta asuransi.

Untuk menjadi peserta asuransi syariah tidaklah memandang suku, agama, dan ras. Setiap orang dapat merasakan manfaat yang sama dari asuransi syariah ini. Tentu dengan mengetahui kelebihannya, diharapkan kita dapat tergerak untuk meninggalkan yang konvensional dan beralih ke yang syariah. Dengan begitu kesenjangan yang ada selama ini akan berkurang dan pemerataan perekonomian dapat dinikmati oleh semua pihak.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan


Related Posts :